{"id":604,"date":"2026-07-25T05:55:17","date_gmt":"2026-07-25T05:55:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/?p=604"},"modified":"2026-07-25T05:55:18","modified_gmt":"2026-07-25T05:55:18","slug":"tiiiiing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/2026\/07\/25\/tiiiiing\/","title":{"rendered":"Tiiiiing"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiiiiing<br>Oleh: Kadang Nata Warga<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mau dibilang mati juga tidak, tapi berada dalam alam yang cukup asing\u2026<br>Pada awalnya melihat bumi dari kejauhan, setengah bulat saja..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">wow.. getar getir juga.. saya tak mau melihat.. tak sadar atau otomatis seolah-olah menutup kelopak mata untuk tak melihat..<br>secepat itu kok terasa saya seperti jatuh kebawah dan pandangan bayangan seperti tutup maka makin lama makin terang, seperti ada lampu mobil menyorot ke mata saya dari jauh terus mendekat\u2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">penasaran dan rasa penasaran ingin tahu, mencoba melihat.. ternyata saya telah berada di suatu tempat yang mana warna terang sekali seperti api las listrik namun saya tak silau atau tak merasa sakit matanya.. bukan terang putih, tapi terang jernih seperti air raksa yang jelas terlihat semua dengan terang.. semuanya indah, tidak ada bedanya jauh maupun dekat.. saya tidak berada di tengah maupun berada di pojok ataupun berada di atas dan bawah.. tapi saya berada seperti dalam keadaan ruang tertentu\u2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cngapain nih.. kagak jelas, tempat mana nih?\u201d gak ada siapa-siapa disana, gak jelas mau ngapain\u2026 tidak merasa khawatir, juga tidak merasa senang, yang ada hanya seperti perasaan saat tidur nyenyak\u2026 tidak merasa apa-apa\u2026 berucap dalam hati: apa kalau saya tutup mata maka akan berubah lagi? baru berucap otomatis seolah-olah menutup mata, keadaan terang, tapi merasakan perpindahan keberadaan..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">barulah sayup-sayup mendengar ada yang sedang berbicara, langsung otomatis seolah-olah membuka mata, kali ini saya melihat banyak orang berpakaian setengah, hanya kain putih saja yang menyekat tubuh mereka sampai setengah dada, rambutnya diikat jambul ke atas, mereka layaknya resi-resi dari bali, yang saya ingat waktu itu kayak Pak NA, hanya tidak berjanggut dan kumis, mereka bersih, terlihat usianya sama semua, tapi rasa mengatakan ada yang sudah tua dan muda, namun wajah mereka tanpak bersih tanpa keriput..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201ckisanak, ada apa berkunjung?\u201d tiba-tiba yang cukup tua menyapa.. (walau tak tanpak tua) \u2013 bahasa yang dipakai bukan yang saya kenal, tapi saya mengerti dengan melihat kearah bibirnya saat berbicara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">eh\u2026 gak tahu, sahut saya polos\u2026 (tentu saya pakai bahasa Indonesia )<br>\u201clho kok tidak tahu?\u201d terasa dia berucap bijak.. \u201cbukankah ini yang kisanak mau?\u201d, sambungnya..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">emm\u2026 yang saya mau? rasanya saya tidak mau apa-apa? jawab saya agak pede.. (biasa anak muda )<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cini jawaban yang sudah sekian dimensi waktu belum pernah terdengar, banyak yang sampai tempat ini karena memang cita-cita dan tujuan mereka, apakah ini bukan tujuan kisanak\u201d?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">saya balik bertanya: apakah ini tempatnya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">langsung dijawab: \u201cbukan!, ini bukan tempatnya\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">kalau demikian, saya hanya mampir minum saja \u2013 saya langsung menambahkan sambil menepuk bahunya.<br>dan dia tersenyum sambil mengajak bersila dengan merangkul bahu saya juga dan diikuti yang lain mendekat duduk berkeliling\u2026 terasa lantainya bukan keramik, bukan tanah, bukan bahan padat, tapi terasa padat, layaknya seperti angin..<br>\u201cMari kisanak\u2026\u201d sambil di sambut bijak<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maaf, apakah setiap insan pasti lewat sini? saya memulai bertanya dengan harapan diberikan pemaparan..<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/dimensi-lain.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-605\" srcset=\"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/dimensi-lain.jpg 1024w, https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/dimensi-lain-300x225.jpg 300w, https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/dimensi-lain-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">terasa badan di goncang\u2026 saya tersadarkan oleh istri\u2026 \u201cpi\u2026pi\u2026pi\u2026 ini hampir jam 6 untuk doa pager, tidur apa meditasi sih?\u201d<br>ti\u2026 ti\u2026ti..ti ti ti.. pas jam 6 pagi, saatnya doa pager..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beranjak dari tempat dan setelah doa pager, tidak ingat apa yang terjadi, lalu lelap tidur sampai jam 8 pagi, bangun lalu melakukan aktifitas dengan berangkat kerja..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hampir setengah hari saya tidak mengingat apa-apa tentang kejadian semalam, menganggap seperti pengalaman yang stabil dan statis saja yaitu Hening, sampai pada akhirnya, sewaktu siang, memori atau ingatan pelan-pelan kembali tentang yang saya alami, semua cerita tiba-tiba menyatu dengan pelan-pelan secara bertahap, sampai akhirnya bisa menulis seperti ini. \u201ccelaka, belum selesai rupanya?\u201d. Nanti malam lakukan lagi : perasaan berkata di hati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Singkatnya malam setelah dianggap dan RASA mengatakan sebagaian telah terlelap, saya memulainya lagi.<br>Diam tidak melakukan gerakan dan napas seperti biasa\u2026 Mulailah 1 persatu persatu lubang tertutup. Sampai terakhir hanya ada rasa sesosok badan sedang bernapas wajar, bukan saya tapi adalah saya wadah fisik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Brrriiiaaaar\u2026 pandangan kembali kesekeliling yang tempat persis kemarin.<br>\u201cKisanak, telah kembali?\u201d Selamat datang lagi\u201d, kata si bijak (saya menyebutnya untuk identifikasi saja).<br>Pada posisi ternyata kami masih duduk persis seperti kemarin, namun kelihatanya bertambah jumlahnya, duduknya bersila dan melingkar seperti perlipat gandaan di tengah saya dan si bijak, lalu ada 4 orang yang lain selanjutnya 8, lalu 16, dst, saya tidak menghitung, tapi RASA saya mengatakan demikian, dan seperti bentuk teratai (jadi ingat Borobudur dari atas dilihat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSaya minta maaf, karena urusan raga membuat saya menjadi kurang sopan\u201d; saya menatap hampir kesemuanya dimulai dari si bijak..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTidak apa-apa, jangan di Rasa, kisanak\u201d si bijak bersenyum padaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa menunggu, dia menjawab pertanyaan saya yang sebelumnya dengan penuh tajam, dalam sebuah rangkaian syair dalam bahasa mereka yang di tangkap oleh saya dalam syair bahasa saya;<br>\u201cHyang Rasa Terpancarkan<br>Yang malang tak berpeluang<br>Yang baik tak menghilang<br>Kenangan hanya hembusan\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSemua adalah Insan<br>Mana yang MAU cemerlang<br>Akan menemukan kegembiraan<br>Akan sampai pada Tatanan\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cHantar diri kepada Kebaikan<br>Jangan risau setiap jalan<br>Patutlah menjaga kedalam<br>Pancaran diri akan gemilang\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisanak sudah paham tentunya.. Jawabnya selesai menjelaskan dengan syair tentang pertanyaan saya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTerima kasih atas hidangan teh nya\u201d, saya melihat senyum yang terpancar dari mereka, menandakan mereka mengerti yang saya maksud..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKisanak, mau saya antar ke pancaran yang lainnya\u201d si bijak mengajak saya (ternyata saya tidak salah, pancaran yang dimaksud adalah tempat yang saya Tanya)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMatur Suwun\u201d; saya menjawab dengan gaya Jawa, maklum bawa nama Jawa euy.. (Terutama Gantharwa)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cPada sejatinyalah, bahwa setiap insan akan hadir pada diri insan yang lainnya, antara pancaran dan yang lainnya selalu saling menyatu dan menghimpun menjadi satu, tapi ingatlah bahwa pantulan akan menjadikan duka yang dalam\u201d sambil beranjak berdiri, si bijak berwejang tanpa saya Tanya, dan mengerti yang saya butuhkan. Sementara yang lain tidak ikut berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cMari Kisanak\u201d, sambil menepuk bahu, kemudian brrriiaarrr\u2026 dan terdengar suarang denging\u2026 Tiiiiiiiiiiinnngggg\u2026\u2026\u2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ti..ti\u2026ti..ti..ti..ti.. tersadarkan oleh alarm jam 6 pagi: saatnya doa pager..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wah.. ternyata udah jam 6, tak terasa, tapi saya sepertinya tidak mengalami apa-apa kecuali hening, terpikir oleh saya setelah menyelesaikan Doa Pager. Namun sekilas juga ingat, jangan-jangan saya tidak ingat lagi yang menjadi kejadian seperti kemarin.. mungkin pikiran nanti akan kembali merekam yang terjadi saat meditasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa pikir panjang saya langsung tidur, mengingat 3 jam lagi harus aktifitas\u2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada pertengahan hari, saya melihat seolah-olah slide film yang saya alami di pikiran saya, ternyata rekaman ingatan pikiran masuk, seplah-olah pikiran diceritakan tentang apa yang terjadi, sehingga saya bisa becerita seperti diatas tadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Singkat cerita, rutinitas meditasi saya kembali lagi membawa saya kembali melanjutkan petualangan mengasa kawruh, walau saat ini saya bisa ceritakan, namun sebenarnya setelah mengalami setengah hari baru bisa teringat kembali.<br>Berikut adalah pengalaman selanjutnya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiiiiinnnggg\u2026.. degingan panjang dan tinggi tapi tidak memekakan telinga, pada saat seolah mata membuka maka terlihat bahwa sekarang di suatu suasana\/tempat\/lingkungan\/keadaan semuanya adalah warna emas yang silau, tapi tidak menyilaukan bagi mata. Tempat di hadapan saya ternyata bukan lagi si bijak, tapi sudah pribadi yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSalam Anaknya Sampoerna\u201d, dia langsung menyapa, wah saya kaget, pribadi ini mengenal saya? Bertanya dalam hati saya, dan dia kelihatanya jauh lebih tua usianya dari si bijak namun tetap paras muda, dan seluruh tubuhnya adalah tubuh cahaya berwarna perak silau, persis diruang yang saya tinggalkan bersama si bijak, saya juga langsung memahami siapa yang ada dihadapan saya, tidak perlu perkenalan, namun sudah salung mengenal, kali ini bahasa yang di gunakan berbeda lagi, tapi saya dapat mengerti dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTentu saya mengenalmu dan juga Gurumu\u201d. Dia menyambung\u2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDhanyang luhur nan agung, sudi bisa memberikan anakmu ini secerca Kesejatian untuk Sejati ning Urip\u201d saya berkata dengan sopan, menjadikan saya ingat saat bertanya serius kepada Kyai Tunggul Jaya Among Rogo, pada saat pertama di perkenalkan oleh Guru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dhanyang tersebut menjawab:<br>\u201cKadangku Ananknya Sampoerna,<br>apa yang engkau dapat dari pancaran sebelumnya telah cukup bagimu,<br>apa yang engkau saksikan telah bisa engkau gali sendiri,<br>antara engkau, dia (sibijak), dan aku telah banyak cerca yang terurai,<br>ada saatnya datang, dan akan selalu berada didalam, dan akan menjadi milikmu\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cDhanyang luhurku, terima kasih telah berbagi, ijinkan Kadangmu ini tinggal sebentar dan ditemani\u201d, saya langsung menambahkan setelah paham..<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKadangku Anaknya Sampoerna memang sudah saatnya, mari banyak yang harus di saksikan sendiri\u201d, beliau langsung mengajak saya.<br>Tiiiiiiiiinnnnng\u2026.. TAMAT<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maaf, tulisan ini telah di edit bagian awal proses meditasi, bagian tengah, dan bagian akhir tidak di ceritakan, hanya untuk penulis yang belum siap saya bagikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terima Kasih Salam Sejati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jakarta, 2008<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TiiiiingOleh: Kadang Nata Warga Mau dibilang mati juga tidak, tapi berada dalam alam yang cukup asing\u2026Pada awalnya melihat bumi dari kejauhan, setengah bulat saja.. wow.. getar getir juga.. saya tak mau melihat.. tak sadar atau otomatis seolah-olah menutup kelopak mata<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-604","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"jwk","author_link":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/author\/jwk\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Uncategorized<\/a>","rttpg_excerpt":"TiiiiingOleh: Kadang Nata Warga Mau dibilang mati juga tidak, tapi berada dalam alam yang cukup asing\u2026Pada awalnya melihat bumi dari kejauhan, setengah bulat saja.. wow.. getar getir juga.. saya tak mau melihat.. tak sadar atau otomatis seolah-olah menutup kelopak mata","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/604","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=604"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/604\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":606,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/604\/revisions\/606"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}