{"id":436,"date":"2026-07-25T02:42:15","date_gmt":"2026-07-25T02:42:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/?p=436"},"modified":"2026-07-25T02:42:16","modified_gmt":"2026-07-25T02:42:16","slug":"hanacaraka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/2026\/07\/25\/hanacaraka\/","title":{"rendered":"HaNaCaRaKa"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">HANACARAKA<br>Sumber: Perpustakaan Gantharwa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksara Jawa Ha-na-ca-ra- ka<br>Dan Ketakutan Orang Jawa Akan Disharmoni, akibat salah komunikasi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ha na ca ra ka<br>Dikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">da ta sa wa la<br>Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">pa da ja ya nya<br>Mereka sama-sama kuat dan tangguh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">ma ga ba tha nga<br>Akhirnya kedua abdi itu pun tewas bersama<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksara Jawa ha-na-ca-ra- ka mewakili spiritualitas orang Jawa yang terdalam: yaitu kerinduannya akan harmoni dan ketakutannya akan segala sesuatu yang dapat memecah-belah harmoni. Konon aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua abdinya yang setia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikisahkan Ajisaka hendak pergi mengembara, dan ia berpesan pada seorang abdinya yang setia agar menjaga keris pusakanya dan mewanti-wanti: janganlah memberikan keris itu pada orang lain, kecuali dirinya sendiri: Ajisaka. Setelah sekian lama mengembara, di negeri perantauan, Ajisaka teringat akan pusaka yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Maka ia pun mengutus seorang abdinya yang lain, yang juga setia, agar dia pulang dan mengambil keris pusaka itu di tanah leluhur. Kepada abdi yang setia ini dia mewanti-wanti: jangan sekali-kali kembali ke hadapannya kecuali membawa keris pusakanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ironisnya, kedua abdi yang sama-sama setia dan militan itu, akhirnya harus berkelahi dan tewas bersama: hanya karena tidak ada dialog di antara mereka. Bukankah sebenarnya keduanya mengemban misi yang sama: yaitu memegang teguh amanat junjungannya? Dan lebih ironis lagi, kisah tragis tentang dua abdi yang setia ini selalu berulang dari jaman ke jaman, bahkan dari generasi ke generasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jikalau manusia ingin melangkah lebih jauh (agar tidak menjadi bangkai) maka sebaiknya dengan asumsi yang telah di tafsirkan secara berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX, Raja Kasunanan Surakarta. Tafsir tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada \u201d utusan \u201d yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan).<\/li>\n\n\n\n<li>Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data \u201d saatnya ( dipanggil ) \u201d tidak boleh sawala \u201d mengelak \u201d manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.<\/li>\n\n\n\n<li>Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha \u201d sama \u201d atau sesuai, jumbuh, cocok \u201d tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu \u201d menang, unggul \u201d sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan \u201d sekedar menang \u201d atau menang tidak sportif.<\/li>\n\n\n\n<li>Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Makna Huruf<br>Ha Hana hurip wening suci \u2013 adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci<br>Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara \u2013 pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi<br>Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi \u2013 arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal<br>Ra Rasaingsun handulusih \u2013 rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani<br>Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana \u2013 hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan \u2013 menerima hidup apa adanya<br>Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa \u2013 mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup<br>Sa Sifat ingsun handulu sifatullah \u2013 membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan<br>Wa Wujud hana tan kena kinira \u2013 ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas<br>La Lir handaya paseban jati \u2013 mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pa Papan kang tanpa kiblat \u2013 Hakekat Allah yang ada disegala arah<br>Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane \u2013 Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar<br>Ja Jumbuhing kawula lan Gusti \u2013 Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya<br>Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi \u2013 yakin atas titah\/kodrat Illahi<br>Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki \u2013 memahami kodrat kehidupan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ma Madep mantep manembah mring Ilahi \u2013 yakin\/mantap dalam menyembah Ilahi<br>Ga Guru sejati sing muruki \u2013 belajar pada guru nurani<br>Ba Bayu sejati kang andalani \u2013 menyelaraskan diri pada gerak alam<br>Tha Tukul saka niat \u2013 sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan<br>Nga Ngracut busananing manungso \u2013 melepaskan egoisme pribadi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">MANUSIA ADALAH UTUSAN, MAKA MENJALANI PANGGILAN SEBAGAI UTUSAN ADALAH SIKAP YANG TEPAT DI HADAPAN SANGHYANG.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>HANACARAKASumber: Perpustakaan Gantharwa Aksara Jawa Ha-na-ca-ra- kaDan Ketakutan Orang Jawa Akan Disharmoni, akibat salah komunikasi ha na ca ra kaDikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia da ta sa wa laKeduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi pa da ja ya<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-436","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"rttpg_featured_image_url":null,"rttpg_author":{"display_name":"jwk","author_link":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/author\/jwk\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/category\/uncategorized\/\" rel=\"category tag\">Uncategorized<\/a>","rttpg_excerpt":"HANACARAKASumber: Perpustakaan Gantharwa Aksara Jawa Ha-na-ca-ra- kaDan Ketakutan Orang Jawa Akan Disharmoni, akibat salah komunikasi ha na ca ra kaDikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia da ta sa wa laKeduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi pa da ja ya","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=436"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":437,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/436\/revisions\/437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jagaweningkaton.my.id\/latihan3\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}